Monday, 20 November 2017

JURNAL PERJALANAN HARI KE 4



PERJALANAN

Pagi ini aku bangun sedikit terlambat, seharusnya jam 4 tapi hari ini aku bangun jam 5 lewat. Aku bergegas mandi dan membawa tas yang sudah disiapkan dari tadi malam ke depan pintu. Lalu setelah ngobrol dan sarapan dengan Pak Saud, Kak Andit datang menjemput. Aku mengeluarkan al-Quran dari tasku yang kusimpan dari kemarin untuk diberikan ke Pak Saud sebagai tanda terima kasih. Kami berfoto dengan keluarga inang lalu pamit dan langsung pergi ke kapal Sanus 66 yang sedang bersandar di Pulau Kelapa. 30 menit setelah beli tiket, kapal berangkat tepat jam 9:00. Aku tidur selama perjalanan sedangkan yang lain main dan mondar-mandir. Aku terbangun ketika mendengar bunyi peringatan sudah mau sampai Pelabuhan Sunda Kelapa. Aku mengambil tas dan berlari keluar, Sesampainya di luar aku melihat antrian panjang orang-orang yang mau turun. Setelah menunggu 15 menit kapal pun berhenti dan jembatan kecil dikeluarkan. Setelah turun kami langsung naik busway yang sudah ngetem persis di depan kapal Sanus berhenti. Hanya butuh 20 menit perjalanan menggunakan busway unruk sampai di stasiun kota. Setelah sampai kami makan siang lalu berpisah sesuai stasiun tujuan masing-masing.

WAWANCARA

Hari ini aku sama sekali tidak wawancara

KELUARGA INANG

Keluarga Inang memberikan ku no telp mereka jika sewaktu-waktu aku mau menginap lagi di Pulau Harapan
ZEROWASTE
 Aku membawa pulang botol Goodmood dan plastik Lays

BUDGET

Lays 10rb
Goodmood 5rb
Thai tea 10 rb
Gojek 10rb
Buswy 5rb
Total: 40rb

JURNAL PERJALAN HARI KE 3

PERJALANAN

Hari ketiga adalah hari bebas kalau dilihat dari jadwal. Karena hari bebas aku memutuskan ikut memangcing bersama Pak Saud dan anaknya Muksin. Kami berangkat jam 7 pagi ke dermaga dekat pohon magrove.

Kapal Pak Saud sudah cukup berumur, namun masih terlihat bagus. Kapal motor ini dinyalakan dengan cara memutar roda bertuas berkali-kali dengan cepat. “BRRUUM” suara mesin kapal berbunyi, suara yang dikeluarkan kapal motor ini cukup keras. Setelah mesin menyala kami langsung berangkat.

Di perjalanan aku banyak bertanya kepada Mas Muksin tentang pulau-pulau di dekat Pulau Harapan. Agar tidak lupa, aku menggambar peta pulau-pulau di sekitar kita.

Hanya membutuhkan 25 menit untuk sampai ke titik pemancingan. Setelah sampai, Pak Saud menyiapkan pancingan dan umpan. Tidak seperti yang kukira, pancingan mereka jauh lebih sederhana, hanya sebuah kaleng yang diikat benang nilon dan ujungnya diberikan umpan benang sutra dan pemberat besi. Walau terlihat sederhana namun cukup efektif. Tak butuh waktu lama kita sudah mendapatkan enam ikan pasir karang. Pak Saud memutuskan pergi dan mencari spot memancing yang lain karena di sini ikannya hanya sedikit. Setelah sampai spot baru, ternyata kita hanya mendapatkan satu ikan pasir karang, lebih sedikit dari spot sebelumnya. Akhirnya kita pergi ke spot memancing yang terakhir dan mendapatkan tiga ikan romon-romon dan dua ikan lori.

“Sudah bosan memancing?” tanya Pak Saud.

“Lumayan, Pak,” kata Husayn yang sedang mabuk laut.

Karena sudah cukup puas memancing, Pak Saud membawa kita ke perairan dangkal untuk snorkeling.

Saat kapal berjalan, Mas Muksin melepaskan sebuah umpan berbentuk udang untuk menangkap cumi. Cumi biasanya ada di perairan dangkal, bersembunyi di balik karang dan hanya keluar untuk mencari makanan seperti udang dan ikan kecil. Kebetulan Mas Muksin berhasil menangkap satu cumi-cumi dalam lemparan pertama. Ketika ditaruh di lantai kapal, cumi-cumi itu seperti mencoba mengeluarkan tinta tapi tintanya tidak bisa keluar, karena cumi-cuminya tidak di dalam air. Warna cuminya coklat tua, tapi sekitar 5 menit kemudian cuminya mati dan warna cumi berubah menjadi transparan. Dia memiliki 8 tangan dan 2 tentakel. di bagian bawah dekat tangan ada mulutnya, cumi memiliki semacam paruh seperti burung untuk makan.

Setelah memotret cumi-cumi aku langsung masuk ke air untuk snorkeling. Karangnya tidak seindah yang kemarin kulihat ketika snorkeling dengan teman-teman yang lain. Karangnya coklat, terlihat ada ikan-ikan kecil berenang di dalamnya.

Setelah 1 jam snorkeling, tanganku sudah mulai keriput jadi aku kembali ke kapal untuk pulang. Total ikan yang ku dapat adalah 10 ikan dan 1 cumi. Kata Pak Saud itu jumlah yang sangat sedikit. Dia menjelaskan bahwa sekarang ini sedang memasuki musim jarang ikan atau arus timur. Pada arus timur ikan biasanya jarang makan umpan nelayan. Saat arus barat ikan jadi banyak. Biasanya Pak Saud bisa mendapatkan tenggiri, tongkol dan masih banyak lagi untuk dijual.

Saat jam menunjukan pukul 1 lewat 30 menit, kapal sampai di pelabuhan Pulau Harapan. Hanya butuh waktu 30 menit untuk kembali ke Pulau Harapan. Setelah mesin mati Pak Saud mulai membersihkan kapal dan Mas Muksin berjalan ke Pulau Kelapa untuk mengunjungi istri dan anaknya. Aku dan tim langsung kembali ke rumah.

Di perjalanan pulang aku melihat banyak anak laki-laki sedang main bola di dekat dermaga reklamasi. Karena di sampingnya tidak ada penjaga seperti pagar atau semacamnya, ketika bola jatuh ke air mereka akan langsung berenang mengambilnya walaupun sebenarnya ada tanda dilarang berenang. Ada pula becak yang lalu lalang membawa bawaan berbagai macam benda. Dari kejauhan terdengar suara tawa canda para nelayan yang merokok di kantin sembari mendengarkan dangdut. Memang saat itu bukan musim banyak ikan makanya tidak banyak nelayan yang memancing di hari itu.  

Sesampainya di rumah aku beres-beres dan mandi, lalu berkeliling bersama tim hingga magrib. Setelah sholat magrib dan makan aku ngobrol dengan Pak Saud tentang bola dan keluarga Pak Saud sendiri sampai jam 7:45. Tapi setelah itu aku lupa menulis jurnal dan malah langsung tidur.

 WAWANCARA
Aku ngobrol dengn Mas Muksin tentang pulau-pulau dan ngobrol dengan Pak Saud tentang keluarga inang.

ZEROWASTE
Aku sama sekali tidak menghasilkan sampah di hari ketiga

BUDGET            
Leker 15rb
Cilok 5rb
Total 20rb

JURNAL PERJALANAN HARI KE 2


PERJALANAN  

Di hari kedua semua anak diwajibkan ikut ke Pulau Perak dan Kayu Angin Bira. Jadwalnya sih kita akan membersihkan pantai Pulau Kayu Angin Bira selama kurang lebih 2-3 jam, snorkeling, lalu berenang di Pantai Perak.
 
Sekitar jam 7 kurang kita semua sudah berkumpul di dermaga Pulau Harapan. Setelah sedikit briefing dari mentor kita pun langsung ke berangkat ke Pulau Kayu Angin Bira. Sekitar 45 menit kemudian kita sampai di sana. Sebelum kita mulai memungut sampah, kakak-kakak Polhut memberikan sedikit pengarahan dan informasi tentang pulau tersebut. Salah satunya tentang penyu.

Kata kakak-kakak dari Polhut, Pulau Kayu Angin Bira adalah tempat penyu menaruh telur mereka. Biasanya mereka datang untuk menaruh telur mereka pada awal tahun. Karena ini sudah akhir tahun, sudah tidak ada lagi penyu bertelur. Yang tersisa hanya lubang bekas mereka menaruh telur.
Penyu biasanya memilih tempat yang agak jauh dari bibir pantai untuk menaruh telur mereka. Kriteria tempat penyu menaruh telur seingatku adalah tempat yang rindang dan agak tersembunyi agar aman dari pemangsa seperti biawak. Pasir tempat menaruh telur biasanya kasar agar tukik lebih mudah menggali ke permukaan.

Penyu sendiri sekali bertelur bisa sampai 200 butir, tapi yang berhasil sampai laut hanya sekitar 5. Belum lagi ada pemangsa di bawah air seperti hiu dan ikan lain sudah menunggu. Karena sangat sedikit yang bisa selamat penyu bisa punah. Maka dari itu dibentuklah penangkaran penyu oleh taman nasional untuk melestarikan penyu. Ketika penyu mulai masuk musim bertelur, Polhut datang ke Pulau Kayu Angin Bira secara rutin sekitar jam 5 pagi untuk membawa telur-telur ke penangkaran. Kalau Polhut datang kesiangan biasanya telur penyu sudah habis dimakan biawak.

Pulau Kayu Angin Bira adalah pulau dengan pantai pasir putih yang di tengahnya masih ada hutan kecil yang dihuni oleh biawak. Di perairan dangkalnya penuh dengan karang, ada juga bulu babi dan sesekali kita bisa melihat ikan pari lewat. Sayangnya pulau ini penuh dengan sampah. Kata kakak-kakak Polhut, sampah di sini bukan dari Pulau Harapan atau sekitarnya melainkan sampah kiriman dari Jakarta.

Setelah 3 jam mengumpulkan sampah, terkumpullah 8 kantong penuh sampah. Kita mengangkutnya ke dalam kapal lalu pergi snorkeling. Setibanya kami di titik snorkeling, kami langsung mengunakan peralatan dan masuk ke air.

Airnya tenang dan tidak terlalu berombak pas untuk pemula yang baru pertama kali snorkeling seperti kami. Angin berhembus tenang, matahari di atas kepala, cuacanya cerah sekali. Di bawah air aku bisa melihat banyak ikan kecil dan berbagai jenis terumbu karang. Ada  perairan yang dangkal sekitar 3 meter dan ada juga yang dalam sekitar 6 meter.

Aku mencoba menyelam dan rasanya luar biasa, pengalaman baru. Aku baru pertama kali merasakan tekanan air dan melihat ikan laut. Setelah 35 menit snorkeling kita langsung melanjutkan perjalanan ke Pulau Perak untuk makan siang. Setelah makan siang, kita berenang di pantai pasir putih ini selama 3 jam dan akhirnya pulang. Ketika perjalanan pulang hampir semua anak tertidur termasuk aku.

Ketika sampai di dermaga Pulau Harapan waktu menunjukan pukul 15:30. Aku dan tim pulang ke rumah inang untuk mandi dan sholat, lalu pergi lagi melihat pohon mangrove di Pulau Kelapa. Setelah itu kita makan bakso dan cilung di dermaga.

Pukul 5:45 kita kembali ke rumah inang dan bersiap sholat magrib berjamaah di masjid. Setelah dari masjid aku beli minum dan makan bersama keluarga inang. Aku dan Pak Saud mengobrol tentang pengalaman Pak Saud selama jadi nelayan. Dia bercerita banyak hal dari awal dia jadi nelayan sampai sekarang, perjalanan memancing ikan selama 7 hari 7 malam dan banyak lagi. Setelah puas mengobrol aku kembali ke kamar untuk menulis jurnal dan akhirnya aku tertidur sambil memegang buku jurnal.

WAWANCARA

Di hari kedua aku mendapatkan banyak informasi dari ngobrol. Di pagi hari aku ngobrol dengan Polhut tentang penyu dan Pulau Kayu Angin Bira. Sorenya aku ngobrol dengan pedangang makanan, dan malamnya aku ngobrol bersama Pak Saud tentang kehidupan nelayan.

KELUARGA INANG

Entah kenapa keluarga inang tidak pernah mau diajak makan bersama. Mereka selau bilang sudah makan dan alasan lainnya.

ZEROWASTE

Aku hanya menghasilkan 3 buah tusuk kayu dari cilung yang ku beli di dekat dermaga. Menurutku ini sudah cukup sedikit.

BUDGET

cilung udin 22rb
minuman taro 15rb
mie bakso 10rb
leker 10rb
kopi 5rb
total 67rb

JURNAL PERJALANAN HARI KE 1

Thursday, 9 November 2017

KEPUTUSAN OUTPUT EKSPLORASI 2017

Rencana Awal

Awalnya aku mau bikin tulisan sejarah tentang Pulau Seribu. Tapi ternyata banyak yang perlu dipelajari untuk menulis tulisan sejarah, sedangkan waktunya tidak cukup. Jadi aku beralih ke cerpen fiksi yang memiliki unsur sejarah di dalamnya.

Setelah Eksplorasi

Setelah eksplorasi tidak ada yang berubah. Aku tetap ingin menulis cerpen sejarah, walaupun di pulau sangat sedikit informasi sejarah yang kudapatkan.

Output

Cerpen sejarahnya sendiri belum selesai karena:
1. Membuat cerpen tidak semudah yang aku bayangkan
2. Ini adalah kali pertama aku menulis cerpen

Rencana

Rencanaku menyelesaikan output adalah sebagai berikut:

3-10 November 
 
Aku membaca novel sejarah
Novel yang aku baca adalah Rahasia Meede : Misteri Harta Karun VOC karya E.S Ito.
Alasan aku membaca novel ini, yang pertama ini novel sejarah, jadi aku bisa belajar bagaimana caranya menulis cerita fiksi sejarah. Yang kedua adalah novel ini salah satu settingnya ada di Pulau Seribu.
Setiap selesai satu bab, aku menarasikannya. Setelah itu aku mendiskusikan tokoh, cara dia menulis alur cerita, latar, dan misteri bersama ibu.

10-15 November

Setelah membaca buku tadi harapannya aku sudah mulai dapat ide dan dapat
mengembangan ide. Jika idenya sudah dapat aku akan mulai membuat kerangka. Tapi karena waktunya tidak cukup aku akan membuat draft awal dulu.

15 November

Submit output untuk mendapatkan masukan dari mentor. Setelah itu aku akan melakukan perbaikan-perbaikan.

22 November

InsyaAllah cerpennya sudah jadi dan siap dipublikasi.

Tuesday, 17 October 2017

DUMMY OUTPUT OASEKSPLORASI

Hari ini aku mencoba menulis sebuah cerita karangan dengan tema misteri. Sebagai latihan membuat output yang sudah direncanakan. Ibuku menulisan tiga paragraf sebagai pancingan untuk aku teruskan.

Rasanya menyenangkan. Membuat sebuah cerita sendiri dengan imajinasi ku sendiri. Tetapi ada kesulitannya juga yaitu dalam meletakan tanda baca. Untuk ide dan alur itu mengalir begitu mudah dalam otakku dan tanpa sadar sudah banyak sekali yang ditulis. Menurut ibuku untuk tulisan karang pertama ini sudah cukup baik, deskripsinya cukup rinci dan suasana misterinya sudah terbangun tapi logika cerita, dan kesatuan ide harus di latih lagi. Tulisan selanjutnya harus menggunakan kerangka pikiran supaya cerita tidak melantur kemana-mana.

Ini adalah hasil tulisanku


RUMAH DI UJUNG JALAN FLAMBOYAN
Aku menggosok-gosok map hijau di tanganku, sambil memandang rumah itu dengan ragu. Rumah di ujung jalan itu adalah rumah terakhir yang harus kudatangi, dengan membawa map berisi daftar penyumbang untuk kegiatan 17an yang diadakan Karang Taruna RW. Semua panitia disebar untuk menggalang dana dari warga, dan kebetulan aku bertugas di jalan Flamboyan ini.

Dan malam ini, sudah semua rumah kudatangi, kecuali rumah paling ujung. Menurut tetangga, rumah itu bukan rumah kosong, karena lampu dinyalakan tiap malam. Tapi mereka sendiri tidak pernah tau dengan jelas siapa isinya.

Pelan aku mendekati pagar yang berkarat. Tidak dikunci, jadi aku mendorongnya dan masuk. Halamannya yang kecil tampak tak terawat, barang bekas bertumpuk di sudut-sudut. Namun, lampu rumah menyala. Aku memberanikan mengetuk pintu sambil mengucap salam.

Tak ada jawaban. Kuketuk sekali lagi, tapi tetap tak ada reaksi. Ya sudah, aku berbalik hendak melangkah pulang, ketika terdengar decit engsel pintu yang membuka.
-----------------------------------
Kreeekk.

Bunyinya seperti engsel pintu tua yang sudah lama tidak diberi oli. Betapa terkejutnya aku ketika melihat ternyata tidak ada orang dan pintu itu ternyata tidak dikunci! Di dalam terlihat redup dan aku mencium bau busuk.

Perasaanku mulai tidak enak. Aku memutuskan untuk tidak masuk, tapi seketika angin berhembus kencang dan meniup map hijauku. Kertas-kertas pendafataran pun terjatuh dan berserakan. Uang sumbangan tertiup kesana kemari dan banyak yang masuk ke dalam rumah tadi karena pintunya tidak ditutup.

Betapa paniknya aku. Jika uang sumbangan ini hilang aku akan dapat masalah besar, karena aku sudah pernah berulah saat 17an tahun lalu dan dapat hukuman yang berat. Tanpa berpikir panjang aku memunguti uang sumbangan satu per satu.

Saat aku mulai memasuki rumah tersebut, dan langsung mencoba menekan saklar lampu. Ternyata lampu ruang tamu tidak berfungsi. Jadi aku mengambil hp dari saku baju dan menyalakan flash hp sebagai senter.

Aku melihat ruangan tamu yang cukup besar. Terlihat satu sofa besar berwarna hitam yang sudah usang dan berdebu. Kelihatannya agak basah dan baunya seperti kencing tikus. Di depannya ada meja kayu kecil. Terlihat ada suntikan dan plastik kecil yang berisi bubuk putih. Yang mengejutkan adalah aku menemukan sebuah gelas di bawah meja. Isinya terlihat seperti air putih biasa dan di dalamnya ada batu es yang belum mencair. Seketika aku langsung merinding sekaligus penasaran siapa sebenarnya yang tinggal di rumah ini.

Suasananya sangat sunyi dan mencekam tapi karena penasaran aku memberanikan diri berjalan ke ruang tengah. Di sana ada sebuah meja makan panjang yang hanya memiliki satu kursi. Di atasnya ada topeng putih dan sebuah pisau dapur yang berlumuran darah. Aku mencium bau busuk yang sangat pekat dari bawah meja.

Ketika aku melihat ke bawah meja, aku melihat sebuah pintu besi. Aku mengetuknya dan bisa merasakan pintu ini sangat tebal. Aku memutar sebuah kenop besar dan pintu itu terbuka. Ada hawa dingin keluar dari pintu itu. Aku melihat tangga kayu menuju ke bawah ruangan. Di bawah sangat terang dengan ubin berwarna hijau dan tembok berwarna putih. Lalu terdengar sebuah teriakan, Tolooongg. dari bawah pintu. Suaranya berat dan seperti   tidak asing lagi bagiku. Aku pun langsung bergegas kebawah.

Alarm hp ku berbunyi. Pukul 10:30 malam aku teringat harus segera mengumpulkan uang sumbangan ke rumah Pak RT. Tapi baru setengah jalan menuruni tangga, terdengar suara langkah kaki sedang mendekat ke arah meja. Aku bisa mendengar dua orang yang sedang berbicara. Aku tidak mengenali suaranya, tapi yang jelas keduanya sedang membicarakan pintu yang terbuka dan map hijau berisi uang.

Aku berlari ke dalam ruangan. Aku melihat banyak toples besar berisi cairan kimia yang didalamnya terdapat organ tubuh manusia, mulai dari jantung, ginjal, paru-paru hingga bola mata. Aku mulai kedinginan karena ruangan ini sangat dingin. Mendengar seseorang membuka pintu besi, aku bersembunyi di balik salah satu toples.

Tak lama kemudian terdengar pintu besi terbuka dan ada seorang pria besar menggunakan jaket motor dan topeng putih sedang menyeret seseorang. Orang yang dibawanya itu meronta-ronta. Tangan dan kakinya diikat wajahnya ditutupi oleh karung. Dia terlihat hanya menggunakan celana dalam.

(BERSAMBUNG)   


PENDALAMAN OUTPUT 2

Ini adalah tulisan tentang pendalaman outputku yaitu cerpen. Cerpen membutuhkan kemampuan dan bahan. Kemampuan yang dibutuhkan adalah kemampuan menulis dan mencari data. Mencari data bisa lewat wawancara dan internet sedangkan menulis bisa lewat latihan rutin.

Unsur yang di perlukan untuk membuat cerpen yang baik adalah tokoh yang menarik, tema yang bagus, latar yang kuat, gaya bahasa, alur, dan amanat. Semua poin-poin tersebut disebut juga dengan unsur intrinsik dan ini adalah hal-hal yang membentuk sebuah cerpen.

Yang pertama aku cari di Pulau Harapan adalah latar karena bisa diamati langsung. Latar meliputi kebiasaan/budaya mereka, gaya berbahasanya, tempat, profesi, cara hidup, struktur masyarakat dan sejarah. Itu semua bisa didapatkan dengan cara pengamatan wawancara dan internet. Setelah latar barulah aku harap muncul inspirasi dan mulai memutuskan tema, alur yang menarik, tokoh dan amanat dalam ceritanya.

 https://coggle-downloads.s3.amazonaws.com/19bba5165032696df85dc1ba27055757f1790a4dce1721e07d72bc15d3ed11e8/Cerpen.png